Menanamkan Karakter dan Moral Sejak Dini: Catatan Observasi di PAUDQU Raudlatul Jannah Kecamatan Pacet - Kabupaten Cianjur

Oleh : Novi Sinta Mutiara
Kontributor Kabupaten Cianjur

IPPAQI (Cianjur). Pendidikan Anak Usia Dini Al-Qur’an (PAUDQU) bukan sekadar tempat bermain, melainkan fondasi utama dalam membentuk struktur moral dan karakter seseorang. PAUDQU berdiri dibawah naungan Kementerian Agama yang menitikberatkan fokusnya untuk menanamkan kecintaan dan dasar-dasar baca-tulis-tahfidz Al-Qur’an, doa harian, akhlak, serta praktik ibadah sejak dini.

Baru-baru ini, saya berkesempatan melakukan observasi mendalam di salah satu PAUDQU yang berada di Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur yakni PAUDQU Raudlatul Jannah. PAUDQU Raudlatul Jannah merupakan bagian dari IPPAQI (Ikatan Pendidik PAUD Al-Qur’an Indonesia) yang mengorganisasi profesi mitra Kemenag guna mewadahi, membina, dan meningkatkan kompetensi pendidik PAUDQU di seluruh Nusantara.

Pengalaman ini memberikan sudut pandang baru bagi saya tentang bagaimana nilai-nilai religius dan kedisiplinan dapat dikemas dengan begitu harmonis untuk anak-anak.

Mengawali Hari dengan Cahaya Spiritual

Kegiatan di PAUDQU Raudlatul Jannah dimulai dengan ritme yang sangat positif. Sebelum masuk ke materi kognitif, anak-anak diajak untuk “mengisi jiwa” terlebih dahulu di lapangan. Beberapa rangkaian kegiatan pembiasaan yang saya amati antara lain:

  1. Sholat Duha Berjamaah : Melatih ketenangan dan pengenalan ibadah sejak dini.
  2. Ikrar Janji Pelajar: Dibaca bersama-sama untuk menanamkan rasa tanggung jawab dan cinta tanah air.
  3. Hafalan Doa Harian & Surat Pendek: Dilakukan secara kolosal di lapangan, menciptakan suasana yang semangat dan ceria.

Sosok “Aba”: Sentuhan Unik Sang Sesepuh
Ada satu hal yang sangat menarik dan menjadi ciri khas unik di PAUDQU Raudlatul Jannah. Setiap sesi doa harian, pembacaan surat pendek, hingga bernyanyi bersama, dipandu langsung oleh Aba. Beliau adalah seorang sesepuh masjid setempat.

Kehadiran sosok kakek atau sesepuh di tengah-tengah anak-anak memberikan nuansa kekeluargaan yang kental. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan karakter di sini tidak hanya mengandalkan guru formal, tetapi juga melibatkan kearifan lokal dan figur teladan dari lingkungan sekitar.

 

Dinamika di Dalam Kelas: Belajar dengan Bimbingan Sepenuh Hati.

Setelah aktivitas di luar ruangan selesai, anak-anak memasuki kelas untuk memulai sesi literasi dan kognitif menggunakan buku panduan yang telah disediakan. Di sinilah saya melihat kualitas tenaga pendidik yang luar biasa :

  1. Antusiasme Pendidik : Guru-guru menunjukkan dedikasi yang sama besarnya, baik kepada anak yang aktif maupun anak yang cenderung pasif. Tidak ada anak yang “tertinggal” atau luput dari perhatian.
  2. Bimbingan yang Humanis: Cara guru mengarahkan anak-anak terasa sangat lembut namun tetap tegas, menciptakan rasa aman bagi anak untuk mengeksplorasi kemampuan mereka.

Melalui pembiasaan yang konsisten, anak-anak tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki akar spiritual yang kuat.

Tulisan ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para orang tua dan praktisi pendidikan tentang pentingnya integrasi nilai agama dan keterlibatan komunitas dalam pendidikan anak usia dini.